Ads 468x60px

Total Tayangan Halaman

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

TRANSLATE

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format

Blogroll

About

dhtr

Blogger templates

Blogger news

Search

Selasa, 22 Mei 2012

Cerpen "Sahabat dan Alzheimer"


Sahabat dan Alzheimer .
Oleh: I Wayan Surya Aryana.

"Aaaaナ pergi kalian, jangan mengganggu aku lagi!" Itulah kata seorang gadis Indonesia yang baru saja mendaftarkan dirinya di Harvard university. Melly, itulah namanya. Dia adalah seorang perempuan yang berasal dari Bali, yang kehidupannya dibawah kata sejahtera, namun demikian, walau hanya dengan berbekal pengetahuan dan keberanian ia merelakan dirinya untuk berpisah dengan keluarganya di Bali untuk datang ke London dengan seorang diri demi pendidikannya S2.

Pada saat hari pertama ia datang ke kampus untuk mendaftarkan dirinya, ia diganggu oleh sekolompok mahasiswa kurang kerjaan. Wijaya, Nengah dan Uyak, itulah nama mereka, sekelompok mahasiswa yang menjadikan menggaggu orang sebagai rutinitas utamanya dikampus. "Uyak, Nengah ada cewek baru tuh. Hmmm, kayaknya dia anak baru. Haaナ alihkan kemudi matamu kearah ku ya, lihat bagaimana seorang playboy sejati beraksi", kata Wijaya sambil sombong. "Hah? tu..tu..nggu Wij, apa yang mau kamu lakukan? Sekarang kita punya class tahu, cepetan masuk ke laboratorium. "Aaahhh, tunggu sebentar dulu. Pratikum kan bisa ditunda. Aku pengen buat game seru sama kalian. TARUHAN sama kalian, gimana?  Kalau aku berhasil ngajak anak baru itu jalan nanti malem, traktir aku selama 2 bulan, hahaha." "Hmmm, tapiナ eeee, hmmm, ok, deal tapi kalau kamu gagal kamu yang neraktir kami ya!", tantang Uyak. "Ok. Liat bagaimana jagoan beraksi." Kata Wijaya, sombong.
"Hai cewek", itulah kata pertama Wijaya untuk Melly. "Kamu anak baru ya disini? Hmmmナ kita jalan bareng malem ini, gimana?",  tanya Wijaya sambil memegang bahu Melly. Seketika melli terkejut dan secara spontan mengatakan "maksudmu apa? Eeiiittssss jangan pegang-pegang, dasar cowok kurang ajar." PPLLAAKK "jangan ganggu aku lagi, idiot!!!",  kata Melly sambil menampar pipi Wijaya. "Hei apa-apaan ini? Maumu apa?, kamu yang baru menginjakan kakimu di kampus ini berani menamparkuナ kamu belum tahu sapa aku? Ehhh aku ini adalナ " namun belum selesai Wijaya berkata, Melly langsung mengambil ice cream yang dipegan oleh uyak dan langsung membuangnya kearah wajahnya Wijaya. "Makan tu ice cream", kata Melly sambil berjalan pergi. "Heh cewek ingusan, aku tunggu kau di depan kampus",  teriak Wijaya."Akan ku berikan pelajaran kepada anak bodoh itu", bisik rama kepada Nengah dan Uyak.

Setelah campus kosong
"Aduh dimana cewek sombong itu? Udah sore gini dia belum keliatan juga.", Pikir Wijaya. "Heh gadis ingusan dimana kamu?", Teriak Wijaya didepan ruang kelas Melly. Setelah menunggu lama di depan kelas, Wijaya masuk ke kelas itu. "Sial, ruangan ini ternyata sudah kosong. Ahhhhhナ cewek sialan ナ. ナ Lihat apa yang bisa aku lakukan besok kepadamu gadis menyebalkan!!!" teriak Wijaya diruangan kelas tersebut.
Hari begitu cepat, malam telah datang, begitu juga dengan suhu di London yang begitu dinginnya telah membekukan kota tersebut, begitu pula bagi seorang gadis Indonesia yang baru tinggal selama 23 jam di kota metropolitan itu. "Hahナ. tidak ナ dimana selimutku ya?" pikir melly sambil memegang secangkir air panas. "Aduh kenapa pikunku datangnya disaat yang enggak tepat seperti ini sih, aku kedinginan tahuナ huh... achiiimmm, achiimmmm" omel melly di ruang tamu sambil bersin-bersin karena kedinginan.  Sejenak tidak terdengar suara apapun lagi di rumah Melly, lalu seketika terdengar suara "PIIAANNGG ナ"
***
"Hemmm dimana gadis eggak tahu diri itu? Kenapa belum juga muncul.", Kata Wijaya sambil menunggunya di depan kampus. "Ahhhh akan ku beri pelajaran tu anak, hmmmナ hei gadis Indonesia, dimana kamu?", teriak wijaya di depan gedung laboratium. "Wij apa yang kamu lakukan? Teriak-teriak enggak jelas kayak gitu.", kata Uyak kebingungan dengan tingkah Wijaya.  "Hmmmナ Yak, apa kamu enggak inget kejadian kemarin??? Wajahku yang berharga ini sudah di lempar pakek ice cream-mu oleh anak baru sombong yang gak jelas itu", jawab Wijaya. "Hmmm, hahaha ナ", Nengah ketawa sambil menepuk punggung Wijaya. "Udahlah Wij, enggep aja ice cream itu anugrah, hahaahaha", ledek Nengah. "Ahhhhナ ", teriak Wijaya kesal. "Hmmm Wijaya tapi udah siang begini kok gadis baru itu gak keliatan juga yaナ?", tanya Uyak penasaran. "Hah, iya juga yah, kenapa dia belum juga datang?", pikir Wijaya kebingungan.
***
"Ahナ hmmナ dimana aku? Aaa..duhhナ aaauuu sa.. saaaナ .. kiit", kata Melly.
"Hmmナ kamu udah sadar ya. Masih sakit atau udah ngerasa mendingan?", kata dokter Jim (keponakan Uyak).
"Hah? Hmm maksud saya, eeemmナ kok saya bisa ada disini dok?", jawab Melly dengan terkejud, saat melihat dirinya telah ada di rumah sakit.
"Owh, kalo ituナ tadi kamu dibawa oleh seorang gadis, dia sih mengatakan kalau namanya itu Sekar. Owh ia nak kalau boleh tahu dimana orang tuamu?" kata dokter sambil bertanya dengan wajah cemas.
 "Hmmm, maaf dok memangnya ada apa nanyain orang tua saya? Soalnya orang tua saya masih di Indonesia, saya sih tinggal sendiri disini dirumahnya bibi saya.",  jawab Melly.
"Aduh, hmmmナ gimana ini, kalau saya tidak memberi tahu gadis ini tentang gejala penyakit yang dimilikinyaナ ナ ナ hmmm" gumam dokter jim secara pelan. Sesaat ia berfikir. "hmmm.. baiklah nak, besok kamu sudah bisa pulang, tapi.. hmmmナ minggu depan kamu harus checkup lagi ya.", Kata dokter secara pelan.
"Hmmm, maaf lagi dok, kok saya harus checkup? Memangnya saya menderita penyakit apa?", tanya melly dengan penasaran.
Seketika  dokter Jim, terkejut mendengar pertanyaan tersebut dan menjawabnya dengan penuh hati-hati. " hmmmナ  enggak, saya cuma ingin tahu perkembangan kesehatanmu, soalnya ada bekas  benturan di kepalamu",  jawab dokter Jim dengan berbohong.
Keesokan harinya, tepat jam tujuh pagi, Melly pulang kerumahnya. "huhナ untung pembayaran rumah sakit udah dilunasin sama Sekar. Hmmm tapi Sekar itu sapa ya? Kenapa aku enggak ingat, hmmナ siapa ya ナ ナ aduh ENGGAK INGAT!!!, hmmm ya udahlah, juga enggak terlalu penting." Pikir melly dengan penasaran sambil berbaring di tempat tidurnya.
"Mellyナ Mellyナ Melly, hallo, ini aku... Kamu ada didalem apa enggak?", teriak seseorang gadis didepan rumah Melly. "Ia, ia sabar, siapa ya?" sahut melly sambil berlari untuk membukakan pintu.
"Hmmmナ maaf ya, tapi anda siapa?", tanya Melly, dengan bingung melihat gadis tersebut.
"Aduh Melly bercandamu enggak lucu deh.", sahut gadis tersebut sambil tersenyum kepada Melly.
"Hah? maaf ya mbak, saya benar-benar enggak tahu. Memangnya mbak ini siapa? Kok pura-pura kenal saya gitu?",  jawab Melly dengan agak serius.
"Hmmm, udah deh Mell, bercandanya jangan kayak ditu!", sahut gadis itu dengan bingung.
Melly sejenak terdiam. "Gadis ini siapa ya? Kenapa dia sok kenal begini", pikir Melly.
"Melly, kamu benar-benar enggak tahu? Apa kamu lupa sama aku? Aku inikan Sekar, masak kamu udah lupa sama aku? Padahal kita baru Aja kenalan dua hari yang lalu, pas kamu daftar di kampus."
"Owh jadi kamu yang namanya Sekar", sahut Melly sambil tersenyum. "Tapiナ aku benar-benar enggak tahu kamu, memangnya kita udah pernah kenalan ya?", Tanya melly dengan penuh perasaan bersalah.
Sekar terdiam dan menatap Melly dengan pandangan kecewa.
"Aduh Sekar, maaf ya, aku memang enggak tahu, aku lupa. Maaf banget ya." Jawab Melly dengan wajah penuh bersalah.
"Ya udahdeh Mell, hmmナ aku balik dulu.", Gumam Sekar dengan perasaan kesal (langsung pergi dari hadapan Melly).
"Heem Sekar, kok gitu sih? Kamu gak jadi mampir kerumahku? Aku kan benaran lupa soal kejadian itu.", kata Melly.  "Sekar, SEKARナ ", teriak Melly saat Sekar telah jauh dari rumahnya. "Hmmm aduh, kok bisa jadi seperti ini sih? Aku kan benaran lupa." pikir Melly dengan merasa beresalah dan kecewa.
***
"Uyak, Pande sekarang aku mau nunggu tu cewek. Pokoknya sekarang aku pengen nuntasin ini semuanya.", kata Wijaya di kantin kampus. "hmmmナ udahin ajalah Wij, lagian itu sudah berlalu kan.", kata Nengah. "Hmmmナ tapiナ ahaaaa Uyak, Nengah coba liat itu siapa yang datang! Hahaha sekarang saatnya aku buat perhitungan sama cewek sialan ini."
"Eh cewek aneh, kenapa kamu baru datang? Aku minta pertanggung jawaban dari kamu atas ice cream yang telah kamu lemparkan ke wajahku!", bentak Wijaya dengan nada keras.
"Hemナ maaf kamu siapa ya?", tanya Melly
"Hah? Apa? Apa yang kamu katakana?  Siapa kamu? Siapa kamu? Hahaha, pertanyaan macam apa itu. Setelah kamu melemparkan ice cream kewajahku, lalu kamu bertanya siapa kamu? Maksudmu apa ini? Pengen buat keributan?", bentak Wijaya dengan lebih keras lagi.
"Maaf, maksudmu apa? Aku benar-benar enggak mengerti." Jawab Melly dengan nada pelan dan lesu karena baru keluar dari rumah sakit.
"Uyak apa perlu aku beri pelajaran ni anak sekarang?", tanya Wijaya kepada Uyak karena kesal.
"Aナ aa.. apa? Apa kamu yakin Wij? Kayaknya dia benar-benar sudah lupa deh dengan kejadian itu.",  jawab Uyak dengan tersedat-sedat kebingungan.
"Wijaya, kayaknya Uyak benar juga deh, ni cewek mungkin udah lupa", kata Nengah
"Hemmmナ tapiナ" Sejenak Wijaya terdiam. "Ahhhhナ ayo ikut aku.", bentak Wijaya keras sambil menarik tangan Melly dengan kuat.
"Lepasinナ lepasin, maumu apa sih? Tanya Melly sambil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Wijaya.
Melihat kejadian itu, Sekar yang sedang lewat langsung berlari kearah Wijaya dan langsung mendorongnya. "Lepasin tangan kotormu dari Melly.",  kata Sekar dengan keras.
"Hahaha memamngnya kamu siapa gadis sok pahlawan?" Tanya Nengah sambil meremehkan Sekar.
"aku sahabatnya Melly. Puas dengan jawabanku? Lepaskan tanganmu dari dia.", bentak Sekar sambil menarik Melly dari pegangan Wijaya.
"Owh jadi kamu sahabat cewek aneh ini, hheeeh.. cepat urus wanita pikun ini! Bikin darah ku naik saja." Kata Wijaya.
 "Hahナ Hemmm, memangnya ada apa dengan Melly sampai di bisa berurusan dengan kalian?", tanya Sekar dengan pelan agar tidak memperbesar masalah lagi.
Wijaya pun menjawab "hmmナ kalau ngomongnya pelan-pelan begini kan enakナ ナ ナ" namun ditengah tengah pembicaraan mereka tiba-tiba melly jatuh pingsan.
"Melly, Melly, Mellyナ" Sekar membangunkan Melly.
Karena Melly tidak sadarkan diri mereka pun membawa Melly ke rumah sakit. "Hmmmナ aaaナ aa..duh. kenapa aku bisa ada disini??", tanya Melly dengan nada pelan saat dia sadar.
 " Kamu ada di rumah sakit Mell.", jawab Nengah.
"Apa?? Hmm kenapa aku bisa masuk rumah sakit. Hmmmナ tapi makasi ya kalian yang bukan siapa-siapa aku disini udah bawa aku kesini, thank's banget, kenalin namaku Melly. Nama kalian siapa?", tanya melly dengan lembut.
Sekar yang sangat perhatian sama Melly itupun akhirnya tidak dapat menahan air matanya. " Enggak kenapa kok Mell, namaku Sekar" jawabnya sambil menangis.
"Owh jadi namamu Sekar, tapi kenapa kamu nangis. Ada yang salah ya?" jawab Melly
"Sekar  please jangan nangis" Bisik Nengah dengan sangat pelan "jangan membuat Melly sampai sedih, kamu ingetkan apa kata dokter Jim."
"Ii..Ii..ia," jawab Sekar dengan penuh dengan air mata.
"Aduh, hehehe kalian ini kenapa? Biasain aja kali, aku gak apa-apa kok." Suruh Melly yang bingung melihat orang yang didepannya yang ia rasa baru kenal bersedih.
Setelah pulang dari rumah sakit, selama beberapa minggu terakhir Sekar, Wijaya, Nengah dan Uyak selalu bersama dengan Melly. Melakukan semua aktivitasnya bersama-sama. Merekapun menjadi sebuah sahabat. Walaupun disetiap harinya pasti terjadi pengulangan perkenalan diantara Melly dan mereka.
"Hahaa Uyaaaakkkkkナ Sekarナ hentikan ituナ. Aku geli tau..", seru Melly sambil tertawa keras.
"Eh, eh, eh kalian semua ayuk cepetinナ dari tadi kita belum ada nyelesaiin tugas kita sedikitpun tahu.", kata Wijaya sambil ikut bercanda.
"Hemm, yailah Wijayaナ hmm  ia ia dehh. Aduh aku pengen makan sesuatu, cacing-cacing diperutku ini udah pada nyanyi nih, hmm gimana kalau kita beli ice cream?" usul Nengah.
"Aha boleh-boleh, tapi aku mau ke kamar mandi dulu ya, hehe sebentar aja", kata Melly.
"Hemm iaia deh, perlu aku anterin?" kata Wijaya meledek.
"Aduh-aduh Wijaya, Wijayaナ enggak perlu", jawab Melly sambil tertawa.
Namun pada saat ia beranjak dari ruang tamu ke kamar mandi, Melly langsung pusing dan tiba-tiba merasa asing dengan tempat dimana ia berpijak sekarang. "Hah, aku berada dimana ini? Aduuhhh, ahhhhhh ttiiiidddaaaakkkk", teriak Melly dan langsung pingsan.
"Melly, Melly bangunナ"
"Hemmナ kenapa ini bisa terjadi kepadamu Melly?", sambil menangis Wijaya berusaha untuk menyadarkan Melly ditengah ruangan rumah sakit yang sempit dan sumpek.
"Dok, apa penyakit yang diderita oleh Melly ini dapat disembuhkan?",  tanya Wijaya.
"Hemmmナ saya ragu tentang itu nak, sebenarnyaナ saya sudah pernah gagal menangani kasus pasien seperti ini, termasuk istri saya. Ia bernasib sama seperti Melly, memiliki penyakit keturunan ini, biarpun saya sudah melakukan usaha terbesar saya namunナ Tuhan berkehendak lain, ia meninggak di tahun ketujuhnya menderita penyakit ini."
"Apa dok? Anda serius? Apa gak ada satupun cara untuk mengatasai ini?", tanya Sekar sambil menangis.
Namun ditengah-tengan percakapan mereka, Melly tiba-tiba tersadar dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka. " apa dok? Memangnya saya menderita penyakit apa? Penyakit apa dok?", histeris Melly.
"Sabar Melly, sabar, kamu ini baru sadar dari pingsanmu.", saran Sekar.
Seketika suasana menjadi tegang. " Hemmmナ be.. beナbegini nak, maksud saya ituナ" sela dokter dengann suara gugup ditengah ketegangan yang terjadi.
 "Dokter tolong, saya minta tolong sekali sama dokter. please katakana yang sejujur-jujurnya kepada saya. Jangan menutup-nutupinya lagi" kata Melly dengan keras.
Tiba-tiba Wijaya berdiri dari duduknya. "Hemmm maaf dok, kayaknya dokter bisa pergi dari sini sekarang, biar kami saja yang menjelaskan kepada Melly.",  kata Wijaya kepada dokter.
"Hmmmナ Ok kalau begitu, maaf saya tinggal dulu.",  jawab dokter.
Setelah beberapa menit nokter meninggalkan mereka, Wijaya mulai menjelaskan semuanya kepada Melly.
"Melly maaf sebelumnya, heeem, sebenarnya aku ama temen-temen gak bermaksud nyembunyiin semua tentang penyakitmu." jelas Wijaya dengan hati-hati. "Waktu kamu masuk rumah sakit beberapa minggu lalu, kami diberitahu oleh dokter Jim, bahwa di otakmu adaナ kayak protein yang menggumpal. Hmmm, itulah masalahnya, protein itu dapat menghambat dan merusak memori jangka pendek otakmu, mungkin karena itu kamu terus lupa dengan kami, sahabatmu sendiri. Melly, sebenarnya bukan hanya ituナ kata dokter Jim itu semua dapat mempengaruhi mememori janggka panjang diotakmu, pertama-tama kamu akan melupakan kami, lalu dlanjutkan dengan keluarkamun dan yang terakhirナ"
"Si..si..apa lagi Wij?" Tanya Melly sambil terkejut.
"Hmmmナ dirimu sendiri!" jawab Wijaya dengan pelan.
"Apa? Diriku sendiri? Mungkin aku tak berguna lagi untuk hidup, lebih baik kalian pergi saja, tinggalkan aku! TINGGALKAN AKU!!! Toh aku juga akan melupakan kalianナ" belum selesai Melly berbicara, semuang sahabatnya langsung berkata "tidakナ" "Kenapa kamu bicara kayak gitu Mell? Kami ini akan setia menjaga kamu kok. Jika kamu lupa dengan apa yang kamu punya apa yang kamu telah lakukanナ kami siap jadi memori external otakmu, kalau kamu lupa dengan kami, itu enggak masalah, kami tinggal memperkenalkan diri kami lagi denganmu. Jadi Melly, sahabatku yang paling baik, tolong jangan bicara kayak gitu lagi, kami akan melakukan apapun untk menjadi ingatanmu.", Kata Sekar.
Seketika itu Melly menangis "aaナaナku  enggak pernah berfikir punya sahabat seperti kalian. Tapppiiiナ bagaimana kalau aku lupa dengan kalian, dan aku tidak mau mengenal kalian lagi?"
"Hmmmナ Pokoknya kami bakal trus sama kamu, titik!!! Jangan pikirin apa-apa lagi.",  kata Wijaya dengan tegas.
Setelah pulang dari rumah sakit, Wijaya, Nengah dan Uyak serta Sekar selalu bersama dengan Melly dan melakukan upaya-upaya untuk selalu memperkuat ingatan Melly. Dimulai dari selalu menanyakan nama mereka, orang tuanya maupun nama diri Melly sendiri hingga menempel semua catatan rumah di dinding rumah.
Beberapa tahun telah berlalu, keadaan Melly semakin parah namun karena kehadiran sahabat-sahabtnya disampingnya ia dapat melanjutkan hidupnya dengan bahagia walaupun dengan penyakit yang dimilikinya yang pada akhirnya akan merenggut nyawanya. "Walau aku akan mati, tapi Tuhan izinkanlah aku mati dengan senyuman. Senyuman kebahagiaan bersama dengan orang-orang yang aku sayangi."


0 Coment:

Posting Komentar